Organisasi Foto dan Workflow Fotografi Digital

Memotret dengan kamera bukanlah segalanya, dalam fotografi aktivitas memotret hanyalah satu tahap dari keseluruhan proses menghasilkan foto. Keseluruhan rangkaian aktivitas inilah yang disebut workflow alias alur kerja fotografi. Artikel ini akan membahas urutan alur kerja standar yang lazim dipraktekkan oleh fotografer profesional dalam mengorganisasi koleksi foto mereka yang jumlahnya sangat banyak, namun kita bisa menirunya supaya koleksi foto selalu rapi, tertata dan tidak membingungkan. Kebanyakan orang setelah selesai memotret akan memindahkan foto yang perlu diedit, mengeditnya lalu mengupload ke Facebook, Flickr atau komunitas foto online lalu melupakan foto aslinya. Begitu kita memerlukan foto asli dalam resolusi besar atau mencari foto-foto ulang tahun teman saat 4 tahun lalu, kita akan kebingungan mencarinya ditumpukan file di komputer, nah hal inilah yang berusaha kita hindari.

Apa itu Workflow Fotografi Digital?

Workflow fotografi adalah rangkaian aktivitas menghasilkan foto digital, dari proses awal di kamera sampai hasil akhir foto. Kalau kita rinci, apa saja sih aktivitas tersebut:

  1. Setting kamera dan memotret
  2. Memindah foto dari kamera ke komputer
  3. Memindah foto ke aplikasi editor foto, misal: lightroom/ photoshop
  4. Organisasi dan sortir foto
  5. Proses edit foto
  6. Backup file foto

Mari kita cermati satu persatu.

1. Setting kamera dan memotret

Setting kamera berpengaruh pada cara kerja kita, misalnya anda menggunakan RAW pasti proses berikutnya akan sedikit berbeda dibandingkan saat anda menggunakan JPEG (baca RAW vs JPEG). Foto RAW memiliki ukuran file yang lebih besar dibanding JPEG sehingga alokasi hard disk komputer sebaiknya juga dipertimbangkan. Atau saat kita memotret HDR yang melibatkan bracketing pastilah workflow-nya berbeda dengan saat kita memotret panorama.

2. Copy foto dari kamera ke komputer

Secara fisik, kita menggunakan card reader atau langsung mencolokkan USB ke camera dan menyambungkan ke komputer. Opsi menggunakan card reader biasanya membuat proses transfer jauh lebih cepat dibandingkan kalau mencolokkan USB langsung ke kamera. Ada banyak cara untuk memindahkan foto dari kamera ke komputer, kita bisa menggunakan fitu bawaan dari Windows Explorer (Windows) atau finder (Mac) atau kita bisa memanfaatkan fitur dari aplikasi macam Lightroom, Aperture, ACDSee atau Adobe Bridge. Saat ini saya merasa cocok menggunakan Lightroom untuk proses ini.

3. Import foto ke aplikasi Editor Foto

Jika anda menggunakan Lightroom atau Aperture, maka kedua software ini memiliki fitur untuk meng-copy foto sekaligus memindahkannya kedalam katalog aplikasi tersebut, sehingga kita bisa menghemat waktu. Yang bagus dari aplikasi semacam ini adalah bahwa kita bisa sekalian mengcopy, memindah sekaligus me-rename dan memberi tanda (tag) pada foto-foto kita dalam satu langkah, sehingga jauh lebih menghemat waktu.

4. Organisasi Foto dan Sortir

Begitu foto sudah ada di komputer, kita perlu memutuskan bagaimana cara mengaturnya sehingga semua foto mudah dicari saat kita membutuhkannya. Saran kami adalah menempatkan semua foto dalam satu folder dan membaginya menjadi sub-folder berdasarkan tahun lalu bulan (lihat foto dibawah).

organisasi foto

Kalau anda menggunakan Lightroom atau Aperture, kedua software ini bisa mengorganisasi foto secara otomatis berdasarkan waktu pemotretan atau bahkan kita bisa memberi keyword (contoh keyword: ulang tahun, wedding, amir, budi, soleh, cici) sehingga kita sangat mudah mencarinya.

Olah digital fotografi 001

Oh, satu lagi anda juga sebaiknya mengganti nama file dari DSXXXXX.JPEG menjadi sesuatu yang lebih bermakna, misal: ulang-tahun-amir-2012.JPEG. Saya sendiri lebih menyukai format nama file seperti ini: 2012-06-19-ulang-tahun-amir.JPEG, urutan angka didepan adalah tahun-bulan-tanggal-event dan menggunakan Lightroom untuk mengaturnya secara otomatis. Sangat jelas bukan?

Custom rename lightroom

Untuk menyortir foto, memisahkan antara foto yang jelek, bagus dan cukup bagus, kita bisa menggunakan fitur bawaan Windows (klik kanan, property – lalu klik di bagian rating) namun hal ini cukup memakan waktu. Kalau anda menggunakan Lightroom, untuk memberi rating kualitas sebuah foto bisa dilakukan dengan cepat, cukup tekan angka 1 sampai 5. Dengan memberi rating maka kita mudah memisahkan antara foto mana yang mau diedit dan foto mana yang bisa kita abaikan.

5. Edit Foto

Setelah selesai merapikan foto dan sortir, sekarang kita bisa memutuskan foto mana yang mau diproses dan diedit lebih lanjut. Mungkin anda bertanya, “apa perlu di edit nih, fotonya sudah bagus?. Menurut saya perlu. Tidak semua perlu di proses secara kompleks, mayoritas foto hanya membutuhkan editing minor seperti foto hanya perlu crop, perlu sharpening, straightening, namun beberapa foto lainnya memang perlu proses editing yang lebih kompleks. Jika anda menggunakan Lightroom, ACDSee atau Aperture, proses editing dasar bisa dilakukan di dalam software itu sendiri.

editor lightroom

6. Export Foto

Setelah selesai dengan editing, langkah berikutnya adalah meng-ekspor foto, baik untuk upload ke jejaring sosial, komunitas forum fotografi maupun dicetak. Perhatikan format foto dan resolusinya. Jika anda akan menggunakan foto untuk di upload ke web anda harus memutuskan ukuran yang dipakai saat proses export dan memilih sRGB sebagai color space.

Lightroom atau Aperture juga memiliki fitur khusus untuk mengupload foto secara langsung ke album foto di facebook, flickr, smugmug dll.

upload foto

7. Backup Foto

Jika selama ini anda tidak pernah melakukan backup, saran saya sebaiknya secepatnya lakukan backup secara teratur. Seberapapun bagus foto-foto anda, tidak ada artinya saat hard-disk rusak dan anda kehilangan foto-foto tersebut untuk selamanya. Harga hard-disk saat ini sudah lumayan terjangkau, dan kalau kita sudah membeli kamera dan lensa seharga jutaan rupiah ada baiknya anda sisihkan sedikit untuk membeli hard disk sebagai drive backup. Anda bisa memanfaatkan fitur backup bawaan Windows atau Mac, bahkan software manajemen foto macam Lightroom juga menyediakan fitur backup foto yang bisa kita pakai.

Jika koleksi foto sudah sangat besar (terlebih lagi resolusi kamera yang makin besar plus video), ada baiknya mulai berpikir untuk membeli penyimpanan khusus backup. Saya membeli hard disk stack enclosure dibawah ini seharga Rp 1,5 Juta (tanpa hard disk) di Mangga Dua, dia memiliki kapasitas sampai dengan 12GB dan kita bia mengganti hard disk kalau ada yang rusak.

2012 06 19 probox

Oke, selamat mengatur workflow fotografi digital anda.