Tips dan Trik Fotografi

Memahami Konsep Exposure Dalam Fotografi

Setelah membeli kamera DSLR, Mirrorless atau bahkan kamera point & shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat bagi mereka yang baru pertama memegang kamera “serius”. Namun mode Auto tidak memberi keleluasaan bagi fotografer yang ingin membuat foto yang lebih kreatif seperti pada foto di bawah ini.

Untuk membuat aliran air yang terlihat seperti kapas lembut ini, kamera memerlukan waktu eksposur yang cukup lama, 10 detik. Dicapai dengan aperture F4 dan ISO 200. Panjang focal lensa 35mm.

Bagi yang ingin “lulus dan naik kelas” dari mode auto kamera serta ingin mengeksplorasi kreatifitas secara maksimal dalam fotografi, mau tak mau kita harus memahami apa yang dimaksud dengan eksposure atau eksposure dalam fotografi.

Jadi apa itu eksposure/exposure dalam fotografi

Sebuah foto adalah “rekaman” cahaya. Eksposure pada intinya adalah jumlah cahaya yang diterima sensor digital di dalam kamera yang kemudian diproses dalam bentuk file foto. Sensor ini sebenarnya menerima pantulan cahaya yang jatuh di obyek foto yang masuk ke lensa. Tertarik memahami cara kerja kamera, silakan baca disini.

Kalau kita memotret di dalam kamar dan hasil foto terasa lebih gelap dari seharusnya kita menyebutnya under-exposed, berarti sensor menerima jumlah cahaya yang kurang. Sbeliknya kadang kita memotret dan hasilnya lebih terang dari yang seharusnya, dalam fotografi disebut sebagai over-exposed. Sensor terlalu banyak menerima cahaya.

Foto yang bagaimana yang eksposure-nya pas? sebenarnya tidak ada patokan eksposure yang pas, semua tergantung selera dan kemauan fotografer. Saat kita ingin memotret foto high-key untuk memberi kesan cerah dan bersih seperti foto arsitektur di bawah ini, kita membuat kamera memotret over, sensor menerima cahaya lebih dari seharusnya. Dan itu oke-oke saja, tidak ada yang salah.

Sebaliknya kadang kita ingin membuat foto under exposed untuk memberi mood dan pesan yang berbeda. Misalnya foto sunset seperti ini, dimana sensor menerima jumlah cahaya yang kurang sehingga kita mendapatkan profil dan wajah orang yang gelap gulita namun langit terlihat indah.

Segitiga Fotografi, Segitiga Eksposure

Fotografer kenamaan, Bryan Peterson dalam bukunya Understanding Exposure menerangkan konsep eskposure dalam fotografi secara mudah. Peterson memberi ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.

Ketiga elemen tersebut adalah:

  1. ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  2. Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  3. Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka

Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.  Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.

Perumpamaan Segitiga Eksposur

Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti halnya sebuah keran air.

  • Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran.
  • Aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran.
  • ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM.
  • Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera.

Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya. sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen penyusunnya.

Anda mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air terbuka. Mengubah Aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya. Mengubah ISO di kamera berarti mengubah besar kecilnya tekanan air.